Friday, September 08, 2006
Aku Merasa Tak Bisa Pergi
***



Malam hening, udara terasa sejuk. Daun-daun masih menyimpan basah sisa hujan sore tadi. Lelaki itu duduk di balkon rumah lantai dua, menikmati panorama jalan dan segarnya hawa. Suara binatang kecil di sudut-sudut halaman memberi ritme serenade malam. Begitu syahdu damainya bumi.
Ia masih sendiri sebelum istrinya keluar dengan seduhan teh yang disuguhkan kepadanya.
“ Biar nggak dingin “ katanya sambil duduk dekat suaminya.
“ Malam ini terasa menyenangkan disini. Aku sungguh menikmati “ kata suami.
“ Iya kak. Karena itulah aku bikinkan teh agar bisa juga kau nikmati “ kata sang istri.
Lelaki itu menoleh, memandangi wanita yang ia nikahi beberapa bulan lalu. Sungguh cantik. Sungguh baik hati wanita lembut ini. Lantas ia memeluknya. Memberi hangat sepenuh jiwa. Wanita itu menyandarkan kepala pada dada suaminya.
“ Wahai istriku, sebenarnya…aku sangat bahagia memilikimu. Kebahagiaanku bukan sekedar wajah dan sinar matamu, atau harta yang bisa kita nikmati. Namun yang sungguh memberi arti, adalah bening hati yang kau simpan, dan yang rela kau bagi denganku. Serasa tenang saat kau sandarkan kepala dipelukku. Seperti sejuk ketika kau pasrahkan keberadaanmu di perlindunganku. Sebab kau itu, keindahanku yang selalu memberi jernih di mata hati “.
Lelaki itu mengecup kening istrinya. Tangannya pelan membelai rambut wanita itu. Dekapnya erat, seperti tak ingin ia melepasnya.
“ Jika kau lihat purnama memberi sinar malam ini, dan bintang mengerlip dipelataran langit, bening embun di bunga taman, atau basah di daun segar, sungguh indah anugerah semesta “.
“ Jika kau dengar nyanyian merdu binatang malam, atau lembut sentuhan angin, dan beningnya suasana kini, sungguh damai rasanya hati “
“ Namun kehadiranmu, istriku…tak bisa kuungkap dirangkaian kata-kata. Atau kuperbandingkan dengan pijar mutiara. Sebab keberadaanmu adalah lebih sebagai sukma yang sanggup memberi bukti kedamaian disekujur jiwa. Sebagai rasa. Sebagai nafas yang menghidupkan keindahan-keindahan. “
“ Kau adalah anugerah, aku bahagia. Sepertinya tak ada yang melebihi kebahagiaan selain kau disisiku. Karena bagiku, kau adalah bagian terpenting yang sanggup memberi semangat, dalam suka dan sedih, dalam liku perjalanan hidup, di semua keadaan “.
“ Dan jikapun harus diberi pilihan, aku lebih memilih tinggal dirumah sederhana dan makan seadanya, namun bisa menyapamu disaat pagi, melihatmu di senjang waktu, memelukmu sampai malam menjelang pagi. Apakah gunanya harta jika tak bisa kutemukan kedamaian ini ? Apakah juga makna hidup jika hatiku kosong oleh ketiadaanmu yang memberiku arti ?…kau adalah sukma yang sanggup tumbuh sebagai jantungku sendiri. Keberadaanmu adalah lebih dari semua harta yang kita miliki “.
“ Jika kelak telah kau lahirkan anak-anakku, aku ingin kau bahagia menimang dan mengasuhnya. Dan jika ia telah beranjak dewasa, aku ingin kita melihatnya sebagai anugerah terbaik yang sangup membanggakan kita “
“ Maka janganlah pergi. Sebab bersamamu, istriku…aku bahagia…”
Wanita itu lunglai dipelukan suaminya. Matanya mulai basah oleh sejuk yang disentuhkan kedalam hatinya.
“ Sebegitu juga, kak…aku bahagia. Tak sanggup aku mengungkapnya dalam kata, hanya kepadamu, aku merasa tak bisa pergi “
Pelukan hangat di malam yang semakin larut, mereka masih juga tak ingin melepaskannya. Kedamaian sungguh meresap dihati dua jiwa mulia itu. Dan rumah yang mereka miliki terlihat begitu teduh, paling tidak bagi keduanya.


*
Photobucket - Video and Image Hosting
Sepasang mata burung hantu yang sedari tadi memperhatikan, lantas terbang. Mungkin cemburu.



--------------------------------------------
 
posted by nasindo at 12:47 AM | Permalink |


2 Comments:


  • At 5:18 AM, Blogger Sisca

    Begitu terharu membaca penjabaran ini mas.....tak heran burung malam pun ikut cemburu.

    Kebahagian sll memeluk pasangan yg saling mencinta :)

     
  • At 7:33 AM, Blogger phajar

    Hmmmmmm.....