Wednesday, November 05, 2008
One fine evening
Kubukakan pintu sesaat setelah seseorang mengetuknya dari luar. Dan sahabat yang kukenal baik berdiri disana, dengan sapu tangan merah diikatkan dikepala. Dia tersenyum, memberi salam selamat sore. Tapi aku tahu bahwa dia sedang sedikit mabuk. Dan akupun mengerti maksud kedatangannya, seperti kemarin-kemarin, pinjam uang buat beli beer atau marijuana.
Dalam hatiku ' kali ini aku tak akan meminjamimu uang '. Sebab sudah seminggu ini dia tidak bekeja, dan menghabiskan waktu dengan minum beer.
Kupersilahkan masuk kekamarku. Aku tawari minuman Es degan kalengan. Tapi dia minta beer. Aku bilang " Maaf, saya tidak minum beer". Kami ngobrol sebentar. Matanya sayu. Lantas dia mengeluh " Aku ingin kembali Salvador ".
" Why ? " tanyaku.
" I don't want to go on with this Sh#t, man " jawabnya.
Dia teman baikku. Berhenti kerja karena perselisihan antar teman, dan mungkin disikapi dengan kurang adil oleh atasan. Sangat disayangkan, sebab dia sebenarnya pekerja keras dan baik hati.
Aku sarankan dia untuk kembali bekerja, sebab Boss masih sangat menginginkannya.
" I don't know ", katanya lirih. Nampaknya dia sedang memendam pikiran yang kelihatan tertekan. Aku tak tahu, sebab aku juga menyimpan beban perasaan yang berat dengan permasalahanku sendiri.
" Kamu percaya dengan hal-hal seperti ini ? " tanyanya sambil menunjuk cincin di jari-jarinya.
" No " aku tak begitu faham apa yang dia maksud.
" Yang bisa memberimu keselamatan " katanya.
" No "
Lantas dia menunjuk tatto bergambar Jesus di bahu kanannya.
" Kamu percaya Tuhan jesus kan ? " tanyanya.
" Tidak. Aku percaya Jesus itu dekat sekali dengan Tuhan, tapi bukan Tuhan " jawabku.
" What ? kamu nggak percaya dia bisa memberimu keselamatan ? " tanyanya.
" Tidak. Tapi dia memang diutus sebagai penunjuk keselamatan " jawabku.
" Jadi kamu percaya Tuhan yang lain ya ? " lagi-lagi dia bertanya.
" Tidak. Tuhan itu satu. Tuhanku, Tuhanmu, Tuhannya jesus juga " jawabku.
" Tapi aku percaya bahwa jesus itu tuhan " katanya.
" Ya itu terserah kamu. Tapi begini, Tuhan itu tidak pernah menangis, tidak mengeluh, tidak merasakan sakit, tidak makan dan tidak minum. Dia itu maha besar, dan tidak bisa digambarkan bagaimana bentuk Tuhan " kataku.
" Jadi, seperti orang-orang cina itu ya, kamu menyembah Buddha ? " tanyanya lagi.
" Tidak. Buddha itu manusia biasa seperti aku, kamu dan juga Jesus. Tuhan itu yang menciptakan manusia, bumi dan seluruh alam raya ini. Buddha dan Jesus tidak bisa melakukannya, sebab mereka hanyalah manusia yang diciptakan atas kehendak Tuhan " jawabku.
" Aah...tau' ah. Tapi kamu percaya ini ? " tanyanya lagi sambil menunjuk cicin itu.
Kali ini aku mengerti, mungkin yang dia maksud adalah Jimat.
" Ya, aku percaya kalo itu cincin milik kamu " kataku.
" Cincin ini juga bisa memberi keselamatan lho " katanya.
" Oh ya ? "
" Ya. Kemarin, pagi sekali sekitar jam empat, aku jalan-jalan ke downtown. Aku takut sebab disana kan banyak orang hitam yang jahat. Selain itu aku juga takut polisi akan mencidukku, karena aku sedang mabuk " katanya.
" Kenapa kamu kesana pada jam sepagi itu ?" tanyaku.
" Aku kan stress " jawabnya.
" Oh gitu "
" Ya. Lalu aku berdo'a pada Jesus agar aku dilindungi. Maka akupun tiba dirumah dengan selamat, berkat jesus dan cincin ini " katanya.
" Gitu ya. Mungkin mereka lagi pada tidur hehehe "
Kemudian kami bicara2 ringan. Kadang dia ngelantur. Maklumlah, masih agak sedikit mabuk.
Ah...lantas aku ambil kamera, dan mengajaknya keluar rumah. Jalan-jalan. Biar hilang rasa gundahnya. Nikmati saja segar hawa di sore ini.

---

 


The neighborhood.

----

Photobucket
Daun-daun telah menguning di musim gugur ini. Pohon disamping rumah itu kelihatan seperti pohon api. Tapi beberapa hari lagi akan segera gundul, daunnya rontok. Kemudian dingin...dan semakin dingin.


Photobucket
Disamping rumah



Photobucket
Daun-daun di musim gugur.


Photobucket
The golden leaves.


Photobucket
Diujung halaman, ada seseorang yang telah menancapkan papan nama ' Mc Cain - Palin '. Saat ini Amerika sedang gencar2nya kampanye menjelang pemilu besuk. Dua kubu sedang panas-panasan. Tapi aku pikir, Mc Cain bakalan kalah. Obama will be the next president.


Photobucket
" The sky is just beautiful ". Aku lihat cahaya mega yang terpantul dari matahari yang perlahan terbenam. Akupun berlari kesamping rumah, kearah barat. Dan woww...langit begitu merah menyala. Seperti api yang sedang membakar langit.


Photobucket
Aku ambil beberapa shot, meski dengan setting yang kurang proper. Tergesa-gesa sih. Sebab moment itu akan hilang dalam beberapa menit.


Photobucket
Sungguh menyenangkan. Sangat megah. Betapa indah pemandangan anugerah Tuhan ini.
Allah memang Maha besar. Maha Perkasa. Maha Agung untuk segala-galanya.
Ya Allah...teima kasih.

-----

Kemudian kami kembali pulang, karena sinar matahari sudah mulai pudar.
" Indah sekali ya sore ini " kataku.
" Ya...sangat menyenangkan " kata temanku.
" Langit yang menyala tadi adalah ciptaan Tuhan. Pohon-pohon yang berwarna kuning itu juga ciptaan tuhan. Sangat indah sekali. Jesus tidak bisa menciptakannya. Sebab jesus adalah manusia biasa seperti kita" kataku.
Temanku itu hanya tersenyum, sambil terus berjalan menenteng tripodku. Sementara aku memainkan kamera, ada burung yang hinggap di balok itu.
Photobucket



Dan kami lanjutkan dengan bincang-bincang kecil...
" Terus...kamu juga harus kembali kerja. Kalo gini terus, gimana bisa survive ? " kataku.
" Mmm...ya. But i don't know where " jawabnya.
" Kembalilah ke bossmu. Dia masih sangat menginginkan kamu, sebab sebenarnya, kamu adalah pekerja yang sangat baik. Aku tahu ".
" Are you sure ? " katanya.
" Yes...I'm so sure "
" Mmm...maybe, I don't know " katanya.
" Okelah...ini kamera, coba pegang, dan ambil gambar saya " kataku sambil masih berusaha menghibur.
Kemudian aku pasang sedikit kamera setting, dengan focal length yang kira-kira proper agar bisa lebih tepat fokusnya. Pake flash sebagai fill, sebab hari sudah mulai gelap.

Photo by ; Ken
Photobucket
Tapi fokusnya masih kurang tepat, sebab dia terkadang masih maju mundur. Mungkin kepalanya masih puyeng...hehehe.
 
posted by nasindo at 6:47 AM | Permalink | 10 comments
Tuesday, April 10, 2007
Cinta yang terpendam
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Ketika aku di SMP
Aku duduk di samping bangku seorang gadis. Aku berkenalan dengannya, dan mengenalnya sebagai gadis yang baik. Aku memandangi rambutnya yang hitam bersinar, matanya yang indah, dan wajah yang selalu tersenyum. Kemudian kami menjadi sahabat yang baik, meski sebenarnya aku ingin memilikinya lebih dari sekedar sahabat.
Seusai sekolah, dia mendatangiku dan meminta buku catatannya yang tertinggal. Dia mengucap “ terima kasih’ dan memberiku senyum. Aku ingin mengatakan kepadanya, dan ingin agar dia tahu bahwa aku ingin kita lebih dari sekedar sahabat. Aku mencintainya tapi aku malu mengatakannya. Entahlah…

Ketika aku di SMA
Telepon berdering, dan dia yang sedang menelpunku. Dia menangis sesenggukan sambil menceritakan tentang cinta yang telah menyakiti hatinya. Dia memintaku datang sebab dia tidak ingin bersedih sendiri. Lalu aku pergi mengunjungi rumahnya.
Ketika aku duduk disampingnya, aku tahu dia begitu sedih. Aku memandang matanya yang begitu bening, sambil berharap dia jadi milikku. Setelah dua jam melihat TV, menghabiskan tiga bungkus chips, dia memutuskan untuk tidur.
Dia memandangku dan berkata “ terima kasih “, sambil memberiku senyum. Aku ingin bilang, dan ingin agar dia tahu bahwa aku ingin kita lebih dari sahabat. Aku mencintainya. Namun aku masih merasa malu. Entahlah…

Di hari ulang tahun seorang teman
Beberapa hari sebelum acara itu, dia barjalan ke lockerku. “ Pacarku sakit “ katanya “ Dan sepertinya percintaan kami juga bubar, aku tak punya pacar sekarang “. Aku memandangnya, tapi tak bisa lebih, sebab kami ingat bahwa sejak hari pertama jumpa telah bersumpah, jika kami hanya sekedar “ sahabat baik “. Maka jadilah kami sahabat.
Pada malam itu, disaat semua acara selesai, aku mengantarnya pulang. Aku berdiri didepan pintu, memandangnya saat ia memberi senyum sambil memandangku dengan mata beningnya. Aku ingin sekali dia menjadi milikku, tapi aku kira dia tidak berpikir demikian.
Kemudian dia berkata “ ini adalah malam terbaik yang kumiliki, terimakasih “ katanya sambil tetap memberiku senyum. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku mencintainya, tapi aku masih juga malu, karena aku pikir dia terlalu baik buatku.

Di hari kelulusan kami
Hari dan minggu silih berganti, bulanpun terus berjalan. Sampai pada hari kelulusan kami. Aku memandangnya sebagai gadis yang sangat menawan, berjalan diatas panggung dengan baju yang begitu menarik. Aku masih memimpikan dia sebagai milikku, tapi dia tentu tidak berpikir demikian.
Sebelum orang-orang pada pulang, dia datang kepadaku, menangis gembira saat aku memeluknya. Aku tahu dia gembira karena kelulusannya. Kemudian dia mengangkat kepalanya dari bahuku dan berkata “ Kamu adalah sahabat baikku, terima kasih “. Lalu dia memberiku senyum lagi, begitu manisnya. Aku benar-benar ingin mengatakan bahwa aku ingin kita lebih dari sekedar sahabat baik. Aku mencintainya, tapi aku malu mengutarakannya, karena aku pikir dia menganggapku hanya sebagai sahabat baik. Entahlah…

Beberapa tahun kemudian
Sekarang aku duduk di emper sebuah masjid. Aku melihat gadis itu menikah. Aku dengar saat ia mengucap “ Ya…saya terima nikahnya “. Aku tidak bisa berkata apa-apa, selain hanya memandangi gadis sahabat baikku itu menempuh hidup baru, menikah dengan lelaki lain.
Tapi sebelum dia pulang, dia menghampiriku, memberiku senyum sambil hanya bisa berkata “ Terima kasih “.
Hatiku masih tetap ingin mengatakan bahwa selama ini aku sangat mencintainya, namun aku malu karena hal itu sudah tidak mungkin.

Di hari pemakaman
Tahun-tahunpun berlalu. Aku memandang sedih pada peti mati gadis yang dari dulu kuanggap sebagai “ sahabat baikku “. Pada saat itu ada yang membaca buku harian gadis itu, yang ditulis pada saat dia masih di SMA.
Buku harian itu berbunyi “ Aku memandangnya dan berharap dialah milikku, tapi dia tidak memperhatikanku demikian. Aku hanya sanggup mengucapkan “ terima kasih “ atas perhatiannya yang tulus kepadaku. Aku ingin mengatakan kepadanya, dan ingin agar dia tahu bahwa aku ingin lebih dari sekedar “ sahabat baik “. Aku mencintainya, tapi aku malu. Aku hanya berharap saat itu dia mengatakan bahwa dia mencintaiku “.

“ Seandainya hal itu kukatakan dulu…” pikirku, lalu menangis.

“ I LOVE YOU “
 
posted by nasindo at 2:21 AM | Permalink | 6 comments
Rasa sayang seorang bocah
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Beberapa hari sebelum natal, aku berjalan-jalan ke sebuah supermarket, bermaksud hanya membeli barang keperluanku hari ini, dan melihat orang-orang yang sibuk membeli hadiah natal. Aku tidak merayakan natal, tapi aku suka melihat-lihat banyaknya orang berbelanja.
Ketika secara iseng aku masuk di seksi mainan anak-anak, aku memperhatikan seorang anak laki-laki kecil, sekitar lima tahun, memeluk erat sebuah boneka didadanya. Dia membelai rambut boneka itu, dan terlihat begitu sedih. Kemudian bocah kecil itu menoleh ke nenek yang ada disampingnya “ Nek…apakah nenek yakin saya tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini ? “
Wanita tua itu Menjawab “ Kamu tahu bahwa kamu tidak punya cukup uang untuk membeli boneka itu, nak “.
Lalu sang nenek memintanya untuk duduk disana beberapa menit, dan iapun pergi melihat-lihat barang disekitarnya. Bocah kecil itu masih duduk disana, sendiri, sambil masih memegang erat boneka itu didadanya.
Lalu aku berjalan mendekatinya, dan bertanya untuk siapa boneka itu ?
“ Ini adalah boneka yang sangat disukai kakak perempuan saya, dan yang dia inginkan dihari natal ini. Dia yakin santa claus akan memberikan kepadanya “ jawabnya.
Lalu aku bilang, dan berusaha meyakinkan bocah itu, bahwa santa claus pasti akan memberikan boneka itu kepadanya, dan jangan khawatir.
Tapi dia berkata dengan begitu sedih “ Tidak, santa claus tidak bisa memberikannya ditempat kakak saya sekarang “. Matanya begitu sayup saat mengatakan hal ini.
“ Kakak saya telah pergi ke tempat Tuhan. Ayah bilang bahwa ibu juga akan segera pergi melihat Tuhan. Lalu saya pikir ibu bisa membawa boneka ini untuk diberikan kepada kakak saya “
Hatiku sangat tersentuh. Bocah itu memandangku, lalu berkata “ Saya sudah bilang ke ayah saya untuk mengatakan kepada ibu agar jangan segera pergi. Saya ingin ibu menunggu sampai saya kembali dari supermarket “. Lalu dia menunjukkan sebuah photo yang sangat bagus saat dia tersenyum. Dia bilang “ Saya juga ingin ibu membawa photo ini, agar dia tidak melupakan saya “.
“ Saya sangat mencintai ibu saya, dan berharap dia tidak meninggalkan saya. Tapi ayah bilang bahwa ibu harus pergi untuk menemani kakak saya “ kata bocah itu.
Lalu dia menoleh lagi ke boneka itu dengan mata sedihnya. Dengan cepat aku megambil dompet, dan menaruh beberapa lembar uang disamping anak itu, tanpa sepengetahuannya.
“ Bagaimana kalau kita periksa lagi, barangkali kamu telah mempunyai cukup uang untuk membeli boneka itu “ kataku.
“ Okey “ jawabnya “ saya harap saya mempunyai cukup uang “.
Aku menambahkan beberapa lembar uang itu tanpa dia ketahui, dan kami mulai menghitungnya. Uang itu cukup untuk membeli boneka, bahkan lebih.
Anak kecil itu bilang “ Terima kasih Tuhan, Kau telah memberiku cukup uang “.
Kemudian dia memandangku, dan berkata lagi “ Kemarin saya berdo’a kepada Tuhan sebelum tidur, agar saya diberi cukup uang untuk membeli boneka. Dengan begitu ibu bisa memberikannya kepada kakak saya. Tuhan telah mendengarkan saya “
“ Saya juga ingin cukup uang untuk membeli mawar putih buat ibu saya, tapi saya takut meminta terlalu banyak. Tapi sekarang Tuhan memberi saya cukup uang untuk membeli boneka dan mawar putih. Terima kasih, Tuhan “.
“ Kamu tahu, ibu saya sangat menyukai bunga mawar putih “ lanjutnya.
Beberapa menit kemudian, sang nenek kembali dengan belanjaannya. Akupun segera pamit untuk melanjutkan urusanku.
Saat aku pulang, aku masih tidak bisa melupakan anak laki-laki kecil itu.
Kemudian aku teringat satu artikel di sebuah koran lokal dua hari yang lalu, yang menuliskan seorang lelaki pemabuk mengendarai mobil bersama istri dan seorang anak perempuannya. Mereka mengalami kecelakan karena menabrak mobil, dan mobil mereka sendiri terguling menabrak bangunan beton di sisi jalan. Lelaki itu selamat dengan hanya luka ringan di kaki dan tangannya. Sang istri dalam kondisi sangat kritis. Sedangkan anak perempuan mereka meninggal seketika.
Keluarga itu memutuskan untuk mengambil wanita itu pulang, karena wanita itu sudah tidak ada harapan sadar kembali dari koma.
Beberapa hari setelah pertemuanku dengan anak itu, aku mengikuti berita dari koran lokal itu lagi. Aku membaca bahwa wanita itu telah meninggal. Aku tak bisa menahan diri dan pergi membeli beberapa bunga mawar putih, lalu bergegas ke rumah pemakaman dimana jenazah wanita itu masih ditidurkan untuk orang-orang yang ingin melihat dan memberi do’a terakhir sebelum dimakamkan.
Wanita itu terbujur disana, disebuah peti mati, memegang seuntai mawar putih dan photo anak lelaki kecil itu, dengan sebuah boneka didadanya.
Aku melihat anak itu berdiri disamping jenazah ibunya. Dengan wajah sedih dia berkata lirih “
Ibu,..selamat jalan. Sampaikan salam saya kepada kakak. Katakan bahwa saya menyayanginya “.
Aku tinggalkan tempat itu dengan hati menangis. Cinta yang dimiliki anak kecil itu kepada ibu dan kakaknya sungguh susah dibayangkan.
Dan sebaliknya, seorang lelaki pemabuk telah mengambil semuanya ini darinya.
 
posted by nasindo at 1:00 AM | Permalink | 2 comments
Tuwek, elek, ugal-ugalan
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Sakjane wong tuwek iku gak oleh ugal-ugalan. Opo maneh ngajak arek cilik blajar ndugal. Wah, blaen tenan.
Mbah wakijan kuwi wes mambu lemah sakjane, tapi polahe digawe nggaya koyok bocah SMA. Clonone jean ngapret, ngetokno pupune sing karek balung thok. Karepe ben koyok arek jaman saiki, tapi malah koyok jangkrik.
Clonone sengojo digawe ngepres. Mungkin maksute ben iso ketok gandule. Maklumlah…gandule mbah wakijan pancen guuede tenan. Mungkin jaman nom-nomane biyen sering dilatih ngangkat boto, mangkane otote mrengkel-mrengkel.
Dino senen mbah wakijan ngajak putune mlaku-mlaku nang mall. Sakjane putune emoh, soale mlebu sekolah. Tapi mbah wakijan masang wajah melas, njaluk dikancani. Soale kan ra pantes, wong prejengane wes tuwek kok tolah toleh dewe.
Terus mbah wakijan nyengklak sepeda montore, langsung ngebut nggonceng putune. Nang tengah dalan, dadakno bane kempes. Mbah wakijan misuh-misuh “ Jiaangkrik ! Iki ban opo lemper seh ? Digawe ngetrek sedilut wae kok wes lemes “. Padahal, sing salah duduk bane, lha wong ban wes meh sepuloh taon gak diganti, sampek tambalane ketok ndemblok sak bunderane ban kok disalahke.
Akhire yo sepedahe dititipno nang tukang tambal ban. Terus timbangane nunggoni suwe, mbah wakijan iseng-iseng ngajak putune mlebu diskotik sing ono nang cedake kunu. Bareng wes mlebu, akeh wong sing podo mendem. Soale kan nang kono dodolan beer lan tuwak sing macem-macem. Wong-wong kuwi podo pringas pringis nguwasi mbah wakijan. Mungkin pikire, iki wong tuwek kok prejengane ndugal.
Terus wong-wong kuwi nawari tuwak sing paling ampuh. Mbah wakijan kroso sungkan, terus yo melu ngombe wae. Glek…glek…glek….gang sedilut mbah wakijan mendem. Terus deweke yo melu pringas pringis, karo nawari putune melu ngombe. Putune yo he’eh wae, lha wong deweke yo ngelak banget.
Dikiro teh manis, tuwak kuwi di ombe sampek sak kal entek rong gelas. Glek...glek…glek…yo mesti wae arek cilik kuwi langsung mendem. Ndase kroso nggandol, terus deweke nggeblak nang pupune mbahe.
“ Mbah…kuwi mau jane ngombe opo ? “ putune takon.
“ Banyu pinter le “ jawab mbahe.
“ Tapi ndasku kok kroso abot, mbah “
“ Lha yo kuwi, berarti utekmu wes mulai mekar “ jawab mbahe.
“ Oh,…berarti Banyu pinter kuwi nggarai pikiranku mekar yo mbah. Aku iso luweh pinter yen ngunu “ putune takon.
“ Ho’oh…” jare mbahe.
“ Yen aku pinter, wes ra perlu sekolah yo mbah “ tembung putune.
“ Glek !…ho’oh…” jawab mbahe.
“ Yen ngunu, aku njaluk ngombene maneh, mbah “ jaluk putune.
“ Nyoh ! ,….” jawab mbahe karo nguwehno tuwak sak gendul gede.
Glek …glek…glek…tuwak sak gendul gede dientekno karo putune. Bar ngunu, arek cilik kuwi langsung mlungker.
“ Hiks…mbah….” putune nyeluk.
“ Opo…hiks “ jawab mbahe.
“ Hiiiangkrik !…” jare putune.
“ Hiangkrik dewe ! “ jawab mbahe.
“ Ahku kok gak isoo ngadek mbah,..hiks ? “ jare putune.
“ Halah…hiks, aku dewe yo teler ngene “ jawab mbahe.
“ Aku tak turu…hiks, yo mbah “ jare putune.
“ Yo wes…hiks…mlungkero kunu, aku yo tak ndlosor nang kene “ jawab mbahe.
“ Yoi, jack…”
Terus wong loro kuwi podo nggeblak dewe-dewe.
Sampek bengi, si mbah karo putune kuwi sek mendem. Tapi berhubung wes arep tutup, terpaksa wong loro kuwi kudu metu soko bar.
Tukang tambal ban yo wes tutup. Mbah wakijan misuh-misuh “ HHiiangkrik !…iki wong kok gak sabar nunggu sedilut wae. Hiks…Terus, awake dewe ki muleh numpak opo le ? “ jare mbah wakijan.
“ Numpaki tukang becak wae, mbah…” jare putune.
“ Hayyah…tukang becak kok ditumpaki le…kowe mengko di keplak lho “ jawab mbahe.
“ Maksute, numpak becak ngunu loh mbah….sori, aku salah ngomong. Aku kan jek mendem, mbah..hiks “ jare putune.
“ Yo wes, sak karepe lambemu wae…” jawab mbahe.
Terus wong loro kuwi muleh numpak becak.
Tekan omah, arek kuwi kondo nang bapake “ Pak, aku saiki wes pinter…sesuk gak perlu sekolah “
“ Kowe iki gendeng opo piye le ? Teko-teko kok ngomong ngunu “ jare bapake.
“ Aku gak gendeng kok, pak…cuman rodo mendem “ jawab anake, karo ndudokno tuwak sak botol gede sisane ngombe awan mau.
Bapake mureng-mureng. Anake langsung dijewer nang kamar, langsung dikongkong turu. Pikire, percuma ngomong karo wong mendem.
Sesuke, arek kuwi jek mlungker nang kamare. Ibune mlebu kamar, nangekno anake.
“ Le…tangi, wes awan. Kowe ndang budal sekolah “ jare ibuke.
“ Moh…aku wes pinter. Ra perlu sekolah, mak” jawab anake.
“ Kowe ki edan po nak….tak kandakno bapakmu lho “ jare ibune.
“ Yo kandakno…lha wong wes pinter kok jek dikongkong sekolah “ jawab anake.
Terus ibune mlebu nang kamare bapake. Tapi bapake yo jek mlungker nang sandinge mejo. Botol tuwak seng digowo anake yo wes ketok kosong, di deleh nang nduwur mejo.
“ Pak…tangi…anakmu gak gelem sekolah. Senenono pak “ jare bojone.
“ Yo senenono dewe…aku gak kuat ngadek…hiks “ jawabe.
“ Kowe ki piye to pak, mbok yo dikongkong sekolah ngunu lho anake “ jare bojone.
“ Kowe ki yo ngunu, ndasku nggliyeng ngene kok dikongkong nyeneni bocah…mooh ! “ jawab seng lanang.
“ Lha nggliyeng kenek opo seh pak ? “ sing wedok takon.
“ Aku bar ngombe Banyu sing nang botol kuwi, gawanane anakmu mau bengi…hiks “ jawab seng lanang.
“ Lah kuwi kan gendul wadahe tuwak, kowe mendem yo pak ? “ sing wadon takon.
“ Bah mendem, bah teler…jo ngomong wae to bu…hiks… “ jawab seng lanang.
Terus sing wedok mureng-mureng. Bojone diseret nang kamare anake, pikire…ben anake diseneni.
Tapi pas ketemu, bapake malah ngguya-ngguyu nang anake.
“ Halo nak…hiks ” jarene.
“ Halo pak…met pagi “ jawab anake.
“ Met pagi…kamu nggak sekolah ya…hiks ? ” Bapake takon.
“ Nggak…saya kan udah pinter “ jawab anake.
“ Ya kalo udah pinter ya gak usah sekolah…hiks…” jare bapake.
“ Hehehe…” anake ngguyu.
Bar ngunu, bapake balik mbrangkang nang kamare dewe.
Weruh ngono kuwi, ibuke mureng-mureng. Bojone seng lagi mbrangkang diseret maneh.
“ Pak..kowe kuwi edan ta ? Wong weruh anake ra gelem sekolah kok di jarke wae “ jarene.
“ Lha kowe ki yo gendeng buk….wong lagi podo mendeme kok di pethukno…yo maleh dadi guyon “ jawab seng lanang.
Seng wedok mencak-mencak. Deweke njukuk sapu, terus di gepukno nang bokonge seng lanang. Tapi seng lanang meneng wae, karo ngguya ngguyu.
“ Hiks…hiiaangkrik !…”.
Terus digepuk maneh.
“ Hiiangkrik !…”
Terus di jewer.
“ Hiiangkrik !…”
Terus di keplak.
“ Hiiangkrik !…”
Terus seng wedok kentekan akal, tapi mbalesi ukoro….
“ Hiaangkrik dewe ! “

-----
Yo ngono kuwi…gara-gara mbah wakijan, sak omah dadi guyon.
Wong wes tuwek…mbok yo ojo ugal-ugalan.

Ojo ditiru….
===================
 
posted by nasindo at 12:56 AM | Permalink | 24 comments
Sunday, December 31, 2006
Interview with kambing
“ Mbing…”
“ Apa “
“ Lagi ngapain ? “
“ Makan rumput “
“ Nggak bosen ?”
“ Enggak…sebab bagiku, rumput ini selalu terasa nikmat..”
---

Bocah itu masih bersandar dibawah pohon, memandang kambing yang sibuk mengenyangkan diri dilapangan rumput. Ia tak bosan juga, meski hari telah menjelang sore.
----

“ Mbing “
“ apa “
“ nggak pingin jalan-jalan ? “
“ Jalan kemana ? “
“ Ya kemana aja, disini terus apa nggak bosen ? “
“ Enggak, sebab rumput ini adalah jalan yang selalu memberiku damai “
----
Bocah itu menyibak daun yang terbasahkan embun pagi, namun rumput masih memberinya bosan disetiap harinya. Sedang kambing masih riang di suara bisu pucuk-pucuk daun dan lembar ilalang.
Apa adanya… Sederhana…
----

“ Mbing “
“ Apa “
“ Ramadhan telah tiba, kamu nggak puasa ? “
“ Enggak “
“ Kenapa ? “
“ Puasa bikin lapar “
“ Nggak takut dosa ? “
“ Apakah dengan tidak puasa lantas aku terkena dosa ? “
“ Ah…tidak juga “
“ So..no problem, then…”
“ Yes..no prob, bro “
----

“ Mbing “
“ Apa “
“ Lebaran telah tiba, mohon maaf lahir dan bathin ya “
“ Iya…sama-sama. Maafkan juga jika aku pernah melakukan dosa “
( Kambing telah mengerti bahwa ia tak terkena dosa, namun maaf adalah wujud dari kesadaran dan kerendahan hati )
-----

“ Mbing “
“ Apa “
“ Hari raya Iedhul adha telah tiba, kamu sudah siap ? “
“ Siap untuk apa ? ”
“ Untuk dijadikan kurban “
“ Apakah kau tega ? “
“ Ah tidak, aku hanya ingin beribadah “
“ Sembelihlah aku jika itu ibadahmu “
-----
Sesaat, setelah daging kambing itu dimakan…
“ Mbing, aku telah rasakan betapa nikmat dagingmu, tapi…disurgakah kau sekarang ? Atau kau telah tak rasakan apa-apa ? “
Suara dari langit, dalam mimpi anak itu “ Kambingmu telah menjadi bagian dari amal ibadahmu. Ia telah tak bisa bersuara, dan tidak juga rasakan apa-apa. Namun keberadaannya ada dalam nikmatnya kebaikan, kerendahan hati dan kepasrahan diri. Ia ada dalam niat-niat baikmu. Maka jangan tangisi dia, tapi tangisilah dosa-dosa di masa lalu, untuk dibersihkan kembali dengan kebaikan dan pasrah diri “.
Bocah itu kemudian berdiam diri, merindui kambing yang pernah menjadi sahabatnya.
“ Mbing…maafkan aku, maafkan juga rindu-rinduku “
Suara kambing dari ujung malam “ Jangan kau meminta maaf Kepadaku, mintalah maaf kepada Tuhanmu. Jangan pula kau rindui aku, tapi rindukanlah keihklasan dalam setiap amal baikmu. “
“ Aku hanyalah mahluk biasa yg berusaha berpasrah diri atas kehendakNya “
-----

Berkorban dalam ketulusan, apapun bentuknya…adalah hakikat kebaikan.
Tunjukkanlah atas nama Tuhamu.


------
 
posted by nasindo at 11:03 PM | Permalink | 2 comments
Friday, September 08, 2006
N a k




Kukecup kening ibumu saat dia melahirkanmu. Kubelai rambutnya pula saat kau menangis dalam pelukannya. Dan jerit pertamamu itu, sungguh bahagia aku mendengarnya.
Nak…
Kau terlahir dari jiwa mulia ibumu. Kau tumbuh dalam rengkuhan lembut wanita yang kucintai. Maka jika kau berkembang begitu manis, aku bersyukur sebab kau dianugerahkan kepada kami.
Aku tak marah jika satu ketika kau bersikap nakal, sebab aku tahu kenakalanmu adalah bagian hidup seorang bocah. Aku tak jengkel jika kau lupa waktu saat bermain, sebab aku tahu itu adalah bagian dari keceriaanmu.
Maka kemarilah, nak…peganglah tanganku. Kugendong kau mengitari halaman rumah, lantas berlarilah sesukamu. Ambillah bola itu, dan tendanglah tepat ke dadaku. Ayunan kaki yang kau perlihatkan adalah pemandanganku yang sungguh indah. Sakitnya dada dari bola yang kau tendangkan adalah kebahagianku yang tak terperi. Maka tertawalah sepenuh keceriaanmu. Sebab tertawamu adalah kedamaianku.
Lihatlah kesana, nak…ibumu juga tersenyum. Sungguh lembut matanya melihat kita. Sungguh indah pula senyuman yang ia berikan. Sebab sebenarnya ia begitu memujimu, seperti aku yang membanggakanmu pula. Maka mengertilah, bahwa kami sangat menyayangimu.
Kemarilah juga, nak…duduklah denganku.
Aku ingin bercerita tentang kisah-kisah para nabi, atau kesatria yang berperang melawan kezaliman. Tentang Adam dan dosa pertama, tentang Yusuf dan kemolekan wajah di jiwa mulia, tentang Sulaiman dan suara alam semesta, atau kisah rasulullah junjungan ummat seluruh zaman.
Khalid bin Walid yang tajam pedangnya terhunus atas nama Allah. Sultan Salahuddin dengan keberanian yang menggiriskan kebesaran Alexander the great. Arjuna yang panahnya runcing melesat dalam kebaikan dan tulusnya cinta. Pandawa yang menghancurkan keangkara-murkaan barisan kurawa.
Atau cerita indah Romeo dan Juliet. Lirik-lirik puisi Laila dan Majnun. Epic romanza Paris dan Helen dari Troya. Dan ketulusan yang tersimpan di kedamaian, atau remuk redam dalam peperangan sejati, kelak kau akan mengerti sendiri.
Aku tak ingin kau menjadi seperti mereka, atau memiliki apa yang dimiliki mereka. Sebab kau bukanlah mereka.
Aku hanya ingin kau jadi dirimu sendiri, yang mencontoh kebaikan dan kemuliaan mereka. Berjalan di kebajikan. Berfikir dikelurusan. Berjiwa satria di keteguhan hati.
Aku bercerita, karena kau anakku. Harapan yang selalu kuimpikan bersama ibumu. Maka berkembanglah,…seperti apa yang ada dalam mimpi kami.
Aku tak mengharap begitu banyak, atau bermimpi kau jadi orang besar. Hanya kelak jika kau beranjak dewasa, aku ingin kau jadi orang yang baik dan berbudi.
Bersihlah, nak…bahagiakan ibumu.

Seperti lumba-lumba yang segar menari di air bersih, atau awan disela langit yang menyimpan matahari, aku ingin melihatmu tumbuh dengan nilai-nilai keindahan hati.

Mengertilah, nak…bahwa aku, juga ibumu, sungguh sangat menyayangimu.



~~~~~
Episode suatu masa...
 
posted by nasindo at 1:17 AM | Permalink | 3 comments
Aku Merasa Tak Bisa Pergi
***



Malam hening, udara terasa sejuk. Daun-daun masih menyimpan basah sisa hujan sore tadi. Lelaki itu duduk di balkon rumah lantai dua, menikmati panorama jalan dan segarnya hawa. Suara binatang kecil di sudut-sudut halaman memberi ritme serenade malam. Begitu syahdu damainya bumi.
Ia masih sendiri sebelum istrinya keluar dengan seduhan teh yang disuguhkan kepadanya.
“ Biar nggak dingin “ katanya sambil duduk dekat suaminya.
“ Malam ini terasa menyenangkan disini. Aku sungguh menikmati “ kata suami.
“ Iya kak. Karena itulah aku bikinkan teh agar bisa juga kau nikmati “ kata sang istri.
Lelaki itu menoleh, memandangi wanita yang ia nikahi beberapa bulan lalu. Sungguh cantik. Sungguh baik hati wanita lembut ini. Lantas ia memeluknya. Memberi hangat sepenuh jiwa. Wanita itu menyandarkan kepala pada dada suaminya.
“ Wahai istriku, sebenarnya…aku sangat bahagia memilikimu. Kebahagiaanku bukan sekedar wajah dan sinar matamu, atau harta yang bisa kita nikmati. Namun yang sungguh memberi arti, adalah bening hati yang kau simpan, dan yang rela kau bagi denganku. Serasa tenang saat kau sandarkan kepala dipelukku. Seperti sejuk ketika kau pasrahkan keberadaanmu di perlindunganku. Sebab kau itu, keindahanku yang selalu memberi jernih di mata hati “.
Lelaki itu mengecup kening istrinya. Tangannya pelan membelai rambut wanita itu. Dekapnya erat, seperti tak ingin ia melepasnya.
“ Jika kau lihat purnama memberi sinar malam ini, dan bintang mengerlip dipelataran langit, bening embun di bunga taman, atau basah di daun segar, sungguh indah anugerah semesta “.
“ Jika kau dengar nyanyian merdu binatang malam, atau lembut sentuhan angin, dan beningnya suasana kini, sungguh damai rasanya hati “
“ Namun kehadiranmu, istriku…tak bisa kuungkap dirangkaian kata-kata. Atau kuperbandingkan dengan pijar mutiara. Sebab keberadaanmu adalah lebih sebagai sukma yang sanggup memberi bukti kedamaian disekujur jiwa. Sebagai rasa. Sebagai nafas yang menghidupkan keindahan-keindahan. “
“ Kau adalah anugerah, aku bahagia. Sepertinya tak ada yang melebihi kebahagiaan selain kau disisiku. Karena bagiku, kau adalah bagian terpenting yang sanggup memberi semangat, dalam suka dan sedih, dalam liku perjalanan hidup, di semua keadaan “.
“ Dan jikapun harus diberi pilihan, aku lebih memilih tinggal dirumah sederhana dan makan seadanya, namun bisa menyapamu disaat pagi, melihatmu di senjang waktu, memelukmu sampai malam menjelang pagi. Apakah gunanya harta jika tak bisa kutemukan kedamaian ini ? Apakah juga makna hidup jika hatiku kosong oleh ketiadaanmu yang memberiku arti ?…kau adalah sukma yang sanggup tumbuh sebagai jantungku sendiri. Keberadaanmu adalah lebih dari semua harta yang kita miliki “.
“ Jika kelak telah kau lahirkan anak-anakku, aku ingin kau bahagia menimang dan mengasuhnya. Dan jika ia telah beranjak dewasa, aku ingin kita melihatnya sebagai anugerah terbaik yang sangup membanggakan kita “
“ Maka janganlah pergi. Sebab bersamamu, istriku…aku bahagia…”
Wanita itu lunglai dipelukan suaminya. Matanya mulai basah oleh sejuk yang disentuhkan kedalam hatinya.
“ Sebegitu juga, kak…aku bahagia. Tak sanggup aku mengungkapnya dalam kata, hanya kepadamu, aku merasa tak bisa pergi “
Pelukan hangat di malam yang semakin larut, mereka masih juga tak ingin melepaskannya. Kedamaian sungguh meresap dihati dua jiwa mulia itu. Dan rumah yang mereka miliki terlihat begitu teduh, paling tidak bagi keduanya.


*
Photobucket - Video and Image Hosting
Sepasang mata burung hantu yang sedari tadi memperhatikan, lantas terbang. Mungkin cemburu.



--------------------------------------------
 
posted by nasindo at 12:47 AM | Permalink | 2 comments
Tuesday, September 05, 2006
Pertemuan Dua Jiwa Mulia
Lelaki itu tidak tampan. Jelekpun tidak. Namun yang tampak adalah lelaki itu selalu terlihat sederhana.


Ia sering melewati jalan disamping rumah, dengan sepeda butut, atau kadang hanya berjalan kaki dengan sandal jepit dan baju seadanya. Jika berjalan seringkali melihat kebawah, namun suka menyapa pada orang disekelilingnya. Suka tersenyum pada orang yang diajak bicara. Terkadang pula bermain dengan bocah-bocah anak tetangga.
Ia seringkali begitu, nampak sederhana.
Mata lentik memandang dari balik jendela. Melihat langit. Melihat pohon. Memandang lalu-lalang dari rumah yang terlihat mewah.
Ia gadis berhati lembut. Menyembunyikan kecantikan dikerendahan hati. Menyimpan diri di kebaikan pribadi. Menghindari kemunafikan yang sering terlihat di kasat mata.
Ia gadis dengan makna hidup pada sisi yang baik.
Perjumpaan dengan lelaki itu berawal dari tatapan mata yang tanpa sengaja melihatnya dari balik jendela. Sebuah pandangan biasa dari mata sang pendiam.
Perkenalan terjadi, tak sengaja pula, saat gadis itu berkunjung ke sebuah toko buku. Suara datar menyapa dari belakang saat ia mencari-cari sesuatu dari dalam tas.
“ Maaf, mbak…ini pulpenmu. Mungkin terjatuh saat anda sedang membalik-balik buku “.
Gadis itu menoleh, tersenyum, dan menerima kembali pulpennya yang baru saja terjatuh.
“ Terima kasih mas “
Pandangan mata beradu kembali, sama seperti saat peraduan pandang dari balik pintu jendela.
“ Ah, ini pasti lelaki itu “ batin si gadis. “ mungkinkah dia juga mengenaliku ?”
Lelaki itu sepertinya tidak peduli. Perjumpaan mereka tak dianggap apa-apa. Namun hatinyapun sebenarnya juga berbisik “ Mungkinkah ini gadis yang biasa memandangi jalan dari balik jendela itu ? ”.
Tanda tanya tetap tersembunyi, namun basa basi kemudian lebih memperkenalkan mereka. Saling bicara, membalik-balik buku, sesekali sedikit bercanda.
Lelaki itu pendiam sebenarnya, namun entah...saat itu ia bisa lepas membukakan mulutnya.
Gadis itu menawarkan diri untuk mengantarnya, saat pulang. Namun lelaki itu sepertinya menampik.
“ Enggak ah, saya jalan kaki saja “ katanya.
“ Ga papa, mas. Kebetulan kita dalam satu arah “ kata si gadis.
“ Enggak, saya nggak biasa pake mobil bagus “ kata lelaki itu.
Gadis itu tetap menawarkan diri, sampai kemudian lelaki itu pun menyetujui.
Perjalanan pulang itu sepertinya peristiwa biasa. Namun yang memberi kesan adalah mereka bisa saling bicara.
Hari berganti. Waktu berjalan seperti biasa. Mata lentik masih terbiasa memandang panorama dari balik jendela. Namun yang terasa adalah kerinduannya melihat sosok yang berjalan dengan sikap seadanya, sederhana.
Lelaki itu tetap berpenampilan sama, meski ada yang dirasa istimewa saat berjalan disamping rumah itu. Penampilannya tak juga berubah, hanya mungkin perasaannya yang berbeda. Antara senang, malu dan gejolak hati yang berdebar saat ia harus menyapa gadis yang menyambutnya dengan lambaian tangan dan senyuman pula.
Pandangan mata kemudian bukan sekedar tatapan mata biasa, namun pandangan yang ditumbuhi perasaan, penuh makna, dan menancap di muara hati dua jiwa yang memilikinya.
Mereka kemudian semakin dekat. Lelaki itu seringkali juga berkunjung. Saling bicara, bercanda, bercerita tentang kejadian-kejadian. Kedekatan mereka kemudian tumbuh sebagai rindu jika tidak bertemu.
Kebersamaan terjalin sebagai sahabat. Saling membutuhkan. Lalu tumbuh sebagai ikatan batin. Sampai pada suatu hari…
“ Ada yang ingin kukatan saat ini, tentang hal yang terpendam dari hari ke hari “ kata sang lelaki.
“ Apa itu ? “ tanya sang gadis.
“ Tentang sesuatu yang mungkin kau telah merasakannya juga “ jawab lelaki.
“ Oh…katakanlah agar lebih kumengerti “ kata sang gadis.
“ Tapi ah…sepertinya aku malu. Ada yang rasanya tak pantas “ kata lelaki.
“ Apanya yang tak pantas ?” sambut sang gadis.
“ Tentang rasa yang tersumbat sebuah perbedaan “ kata lelaki.
Kemudian hening sejenak. Gadis itu mengerti sebenarnya. Namun ia menunggu sebuah ketegasan.
“ Ada sesuatu yang membuatku terkagum. Tentang kecantikan dan kerendahan hati. Dan yang membuatku semakin terkesan adalah jiwa yang kau miliki. Sungguh besar hatimu yang sanggup menepiskan keangkuhan-keangkuhan. Betapa lapang jiwamu yang sanggup menyimpan kelebihan dibalik kerendahan hati. Kaupun bisa menerima kesederhanaan dan kerendahanku sebagai sahabat. “
“ Aku adalah hamba dari keluarga biasa. Tak terbiasa pula dengan kemewahan. Aku hanya memakai baju seperti apa yang biasa kau lihat. Apakah pantas jika aku mengungkapkan perasaanku kepadamu ?“.
Gadis itu memandang sang lelaki. Diam sejenak. Kemudian menatap di sepi langit yang seolah menaungi kesunyian.
“ Aku memandang seseorang tidak dari harta yang dimiliki, atau penampilan yang terlihat sempurna. Aku tak melihat pula kata-kata menarik yang mampu memikat hati setiap wanita. Sebab semua itu adalah rupa yang seringkali menipu kesungguhan-kesungguhan. Kadang pula menafikkan kata hati dan keihklasan “ kata gadis itu memecah keheningan.
“ Kau tentu telah membaca juga tentang Siti Khadijah, saudagar kaya dari Makkah, yang kemudian menikahi Muhammad pembantunya. Ia tak melihat betapa miskin pemuda itu, tapi menilai sikap yang tercermin dari perilaku yang dimiliki ’’
“ Aku melihatmu bukan kepada bajumu, tapi kepada hati yang kau tunjukkan dari sikapmu. Keberadaanmu yang seadanya adalah sebuah cermin pribadi yang apa adanya, polos dan tak tertutupi kepura-puraan. Maka bagiku, sungguh gampang menilai orang sepertimu. Sebab apa yang kau tampakkan adalah apa yang tersembunyi dalam dirimu “.
“ Lantas…apakah aku harus malu bersahabat denganmu ? Atau enggan berdekatan dengan keadaanmu ? Tidak !!! Aku justru merasa bangga. Berjalan denganmu, bagiku seperti menyisiri jalan bersama angin pemberi sejuk yang meniupkan kesegaran dan perasaan damai “.
“ Maka jika kemudian kau mengungkapkan perasaanmu kepadaku, aku bahkan merasa bahwa ini adalah anugerah yang dengan senang hati aku terima “.
Gadis itu diam sejenak. Matanya memandang sang lelaki yang kebetulan memandangnya pula. Kemudian menunduk lagi.
“ Kau nampak begitu cantik, namun hatimu lebih cantik dari wajah yang kulihat saat ini “ kata lelaki itu.
“ Aku mencintaimu “
Gadis itu tersipu, menyimpan malu dan rasa haru. Matanyapun berkaca-kaca saat melihat lelaki itu mengucapkannya dengan nada yang sungguh-sungguh.
Lelaki itu berusaha tenang, memandang gadis yang kemudian mengangguk. Hatinya bergolak menyimpan kebahagiaan teramat sangat. Ia ingin mengecup kening gadis itu, namun tidak, sebab iapun merasa malu.
Dan malam semakin larut. Setiap insan lantas tertidur dalam mimpi masing-masing.
Hari-hari kemudian datang dan pergi. Waktu bergulir mengikuti irama takdir. Mereka berjalan sebagai kekasih yang berusaha saling mengerti, bahwa kejujuran dan keserasian hati sungguh lebih memberi arti daripada perbedaan yang terlihat di kasat mata.
Gadis itu selalu ingin menangis. Namun tetes airmata bukanlah ihwal kesedihan, sebab beningnya menyimpan haru dari lelaki yang memberinya jiwa.
Lelaki itu tampak tenang. Kesederhanaannya tetap sederhana. Namun hatinya selalu luruh saat menjumpai gadis yang selalu dirindui.
Mereka bersama menoreh waktu. Memberinya makna dengan hati yang dimiliki. Membagi rasa pada suka dan sedih. Menyimpan rindu sampai malam menjelang pagi.
Dan waktupun mengantar pada harapan yang diimpikan. Tentang cinta. Tentang ketulusan. Tentang kesungguhan dan kebersamaan yang lebih abadi.

------
Hari itu adalah hari istimewa, saat keduanya dipertemukan untuk mengucap janji pertalian hidup. Moment terpenting dua anak manusia yang saling memberi ketulusan.
Mereka menikah dibawah payung kebesaran Illahi.
Lelaki itu bersikap biasa, apa adanya. Baju yang ia pakai tidak terlalu mahal. Penampilannyapun tak begitu beda dengan kebiasaannya setiap hari.
“ Apakah kau tak bisa memakai baju yang terlihat lebih elegan ? “ tanya seorang sahabat.
Lelaki itu Menjawab “ Aku tak mau dia menikahiku karena bajuku, sebab aku menikahinya bukan karena harta. Tapi aku mau dia menikahiku karena diriku dan keberadaanku, sebagaimana aku menikahinya karena kemuliaan hati yang dia miliki “.
Wanita itu begitu anggun. Keelokannya semakin tampak dibalik gaun yang terlihat menarik. Airmata menetes saat ia mengucap “ saya terima nikahnya “.
Lelaki itu memandangi istrinya, menyalami tangannya, menyimpan perasaan sejuk dan penuh haru.
Perjalanan dua hati, akhirnya diizinkan untuk saling memiliki.
Demikianlah,…sampai suatu ketika dimana takdir tak lagi sebuah mimpi…




***

... Bersambung di episode ' Aku Merasa Tak Bisa Pergi '...
 
posted by nasindo at 5:39 PM | Permalink | 1 comments
Sunday, August 20, 2006
Episode Terakhir
Photobucket - Video and Image Hosting

Lalu ia menoleh lagi, untuk yang kesekian, dan mungkin yang terakhir…
+ : “ Aku tak bisa melihatmu begini. Hapuslah, agar aku bisa segera pergi “
-- : “ Apakah kau juga sanggup ?
+ : “ Sebenarnya…tidak “
-- : “ Lantas kenapa sebuah kepergian ? “
+ : “ Sebab untuk yang terbaik, agar desah tak lagi semakin panjang “
-- : “ Apakah kau rela ? “
+ : “ Sejujurnya… tidak “
-- : “ Kenapa pula sebuah keterpisahan ? “
+ : “ Sebab aku menyayangimu “
Kemudian menunduk. Airmata tak lagi mengalir dari kelopak mata, namun menetes di serpihan hati yang menyimpan pedih.
-- : “ Jangan aku kau tinggalkan “
+ : “ Tidak… “
-- : “ Lantas kenapa harus pergi ? “
+ : “ Agar kau tak menangis lagi “
Ia lemas. Tak kuasa melepas satu ketulusan. Hanya mungkin sekelumit mimpi yang pernah ada, ia harus menanggalkannya.
Dan berpaling, melepas tangan dari bahu sang mutiara.
+ : “ Aku harus pergi “
-- : “ Kak… ”
Ia melangkah, meninggalkan bening di airmata itu.
Dan tak menoleh lagi, sebab ia yakin hal itu membuatnya tak bisa pergi.



=====
Episode terakhir sebuah torehan, ' Matahari yang tertinggal '.
 
posted by nasindo at 3:28 AM | Permalink | 2 comments
Wednesday, August 16, 2006
Maka Kadalpun Hamil ( Part 2 )
Photobucket - Video and Image Hosting


Celoteh Ibu-ibu PKK



Negeri satwa telah lama dikenal sebagai negeri yang makmur dan sentosa, gemah ripah loh jinawi. Rakyatnya ramah tamah dan rajin bekerja. Tapi negeri itu tetap miskin juga. Entah kenapa. Tapi mereka cuek saja, yang penting bisa makan, tidur dan kawin, semuanya beres. Meski berita-berita di TV dan Koran-Koran sedang sibuk membicarakan gerakan teloris ( pengacau yang membunuh orang dengan melemparkan telornya ) atau berita perang dan intimidasi kata-kata dari para politikus ( tikus nggragas ), warga satwa tenang-tenang saja. Mereka justru senang melihat acara yang ringan-ringan saja, seperti dagelan pak mulat ( sir mulat ) atau dengerin lagu-lagu samproh dari grup musik seperti Petek Pan, Singa On Seven, trio kwek-kwek AB three ( Anak Bebek 3 ekor ), atau lagu dangdut dari Onta Sutra dan Bang Haji Rusa Irama. Yang tua masih senang dengan nostalgia penyanyi lama seperti Beruk Pesulima, Kuda Laila, Ayam Rumantir atau KusKus bersaudara.
Sementara itu dikalangan ibu-ibu PKK ( Perkumpulan Kewan Kutangan ) juga masih sibuk dengan diskusi ( baca ngerumpi ) dan omong-omongan. Biasalah, ibu-ibu kalo lagi ngumpul, rasanya gatal kalo nggak ngerumpi. Semakin lama semakin rame. Bahkan kalo sudah panas-panasan, mereka bisa lempar-lemparan sandal, bahkan gelas dan piring pada pecah buat antem-anteman.
“ Eh ibu-ibu…ini nih, saya ada buku baru. Judulnya : Eksistensi manusia, antara dongeng dan realita. Bagus loh bu..” kata Bu rung.
“ Oh…isinya gimana, bu ..?” tanya Bu lus.
“ Isinya ya, penelitian tentang dunia manusia. Diceritakan, bahwa manusia itu sebenarnya ada kok, bukan sekedar cerita dongeng. Dulu sekali, pada zaman pra-sejarah, manusia itu benar-benar eksis didunia ini. Mereka sebenarnya adalah mahluk yang pandai, bisa berfikir dan berakal sehat. Dikisahkan bahwa manusia itu mahluk yang sempurna, lebih Barbudaya daripada bangsa kita. Namun karena kecerdasan itu pula, mereka bisa berpikir begini dan begitu, dan akhirnya punah “ Bu rung sedikit menjelaskan.
“ Loh, kok bisa punah ? Gimana ceritanya ? “ tanya Bu lus.
“ Begini, bu…kecerdasan yang mereka miliki benar-benar dipergunakan untuk pengembangan-pengembangan budaya dan tehnologi. Awalnya sih, tehnologi yang mereka miliki bersifat sederhana. Namun karena otak mereka terus berputar, lama kelamaan tehnologi itu berkembang sangat pesat, sampai tiba pada suatu masa yang dinamakan zaman modern dengan kota-kota yang metropolis. Nah, pada masa serba gemerlap itu, manusia yang semula bersifat social, saling membantu dan hidup berdampingan, berubah dengan sikap yang egosentris, mementingkan diri sendiri. Apa yang dipikirkan satu orang, dianggap lebih benar daripada pemikiran orang lain. Kebenaran kemudian bersifat subjective, dan timbul perbedaan-perbedaan, yang akhirnya memunculkan perpecahan diantara mereka. Perlu diketahui juga, bahwa manusia itu penuh dengan nafsu dan ambisi. Dan sifat-sifat itulah yang kemudian menciptakan manusia untuk hidup berkelompok, berkumpul dengan teman-teman satu ide, satu ideologi, satu kepercayaan, satu negara demi satu tujuan dan kepentingan. Keberadaan satu faksi berusaha dipertahankan, meski dengan menghancurkan faksi lainnya. Akhirnya yah…terjadilah perang. Adu kecanggihan tehnologi dan saling unjuk kecanggihan senjata. Berlomba menciptakan senjata nuklir, atau sekedar roket-roket enhancer lintas Negara. Yang merasa kurang canggih tehnologinya melakukan serangan bawah tanah dengan melakukan teror yang menghancurkan manusia tak bersalah sekalipun. Perang lantas tak terelakkan. Kota-kota yang dibangun itu kemudian hancur. Manusia yang berbudaya menjadi nampak tak beradab. Saling melenyapkan, merekapun mati satu-satu. Dari situlah species manusia akhirnya punah “ kata Bu rung menjabarkan.
“ Terus, wujud manusia itu aslinya seperti apa sih bu ? “ tanya Bu lus.
“ Ya seperti cerita-cerita dongeng itu lho bu, atau seperti yang dilukis pak Leonardo kelinci “ jelas Bu rung.
“ Ah bohong. Semua itu cerita bohong “ kata Bu aya tiba-tiba nyeletuk. “ Yang namanya manusia itu cuma ada dalam dunia dongeng !“
“ Ini berdasarkan penelitian kok, bu “ bela Bu rung.
“ Penelitian apa…nggak ada bukti nyata gitu “ balas Bu aya.
“ Tapi penulisnya ini telah melakukan ekspedisi ke banyak tempat, termasuk ke lokasi yg sangat terpencil peninggalan jaman pra-sejarah di sekitar lautan pasifik. Tempat itu dahulu kala pernah disebut dengan nama Indonesia. Negara ini dikenal sebagai negara miskin, banyak utang, dan kehidupannya terkesan semrawut. Keberadaannya nggak diperhitungkan dalam dunia internasional. Pokoknya nggak canggih deh. Namun negara ini kemudian tenggelam karena lempengan kerak bumi disekitar pantainya sangat ringkih, apalagi sering diterpa ombak besar dari lautan samudra, dan gempa sering juga terjadi karena negara ini dikelilingi gunung-gunung yang masih aktif. Menurut legenda mistis, bencana seperti itu terjadi karena manusianya telah banyak melakukan dosa. Seperti pemimpin yang suka ngadalin rakyatnya, koruptor yang merajalela, aksi tipu-tipu, ditambah lagi rakyatnya yang suka asal demo, dll, dll. Pokoknya sebel deh kalo baca bagian bab yang ini. Makanya saya tutup aja, terus saya buka lembaran selanjutnya ” Bu rung menjabarkan lagi.
“ Walah buuu…cerita gituan mah sudah sering saya dengar. Nggak usah diceritain deh, malah bikin gemes. Lha wong cuman dongeng aja kok dipercaya “ kata Bu aya.
“ Ya kalo nggak percaya, nih baca sendiri ! “ balas Bu rung, agak kesal.
“ Siapa penulisnya ? “ tanya Bu aya.
“ Emprit Sukaputar ! “ jawab Bu rung.
“ Walaahh….Emprit ! Itu hewan suka ngibul ! “ kata Bu aya.
“ Loh…dia tuh eksplorer dan sejarawan ternama. Baca deh ! “ kata Bu rung.
“ Ogah ! “ kata Bu aya.
“ Kalo malas membaca, ya jangan sinis gitu dong ! Ini kan sekedar info “ lanjut Bu rung.
“ Info ya info. Tapi kalo tentang manusia mah…cuman dongeeeenng. Mereka itu nggak pernah ada. Jangan dipercaya deh…” sambung Bu aya.
“ Ah dasar,…kamu memang nggak ilmiah bu ! “ kata Bu rung.
“ Eh….saya dikacangin ? “ Bu aya mulai meninggi.
“ Lah emang begitu kok. Iya nggak bu ? “ kata Bu rung, menoleh pada Bu lus, Bu nglon, Bu deng dan Ibu-ibu lainnya.
Mereka bengong saja. Dilihat suasana sudah agak memanas, ibu-ibu PKK mulai siap-siap memegang peralatan masing-masing, seperti sandal, sepatu, bakiak, gelas, piring dan benda-benda disekelilingnya. Mereka sudah berfirasat, perang kali ini pasti serem.
“ Tapi kok kamu berani bilang saya nggak ilmiah, bu ! Itu pelecehan buat saya. Mau bikin ribut ya ! “ kata Bu aya dengan nada tinggi dan mata merah menyala.
“ Bukan begitu. Tapi coba kalo kamu juga menghargai pandangan saya, kan enak dengerinnya , bu “ bela Bu rung.
“ Eeeh…hewan wanita yang satu ini mulai mentang-mentang ya. Ayo kalo berani ! “ kata Bu aya sambil mengayun-ayunkan konde ditangannya, siap dilempar.
“ Sapa takut ! “ balas Bu rung sambil memutar-mutar sabuk yang barusan dilepas dari pinggangnya.
Seketika itu pula, ibu-ibu PKK berdiri semua, pasang kuda-kuda sambil memegang senjata masing-masing. Gaya mereka telah siap dengan segala kemungkinan. Siap melompat, siap melempar, siap mencakar, siap terluka, siap benjol, dan siap bengkak.
Suasana sunyi sejenak. Mata mereka lirik kiri lirik kanan. Dengus nafas terdengar disetiap sudut ruangan.
Lantas…ziing…glodhak !. Bu aya melempar konde. Tidak kena, sebab Bu rung bisa mengelak.
Kemudian …prang…brak…tuing…twaw…plak…klontang…ngik !…kaing !…meeow !…mbeek !
Demikianlah kalo huru-hara sudah dimulai. Ruangan itu berantakan dan ribut sekali. Ibu-ibu PKK selalu begitu kalo lagi panas-panasan. Nggak ada kawan, nggak ada lawan. Siapa yang terlihat didepan mata, dihantam saja dengan sandal, bakiak, sepatu, gelas, piring dan apa saja yang ada disekelilingnya.
Riuh rendah bunyi suara. Jerit pekik mereka terdengar heroik, bercampur suara benda yang dilempar-lempar. Perkelahian itu cukup seru, meski terlihat lucu. Maklumlah, perkelahian ibu-ibu.
Sampai beberapa lama, korbanpun jatuh satu-satu.
Dipojok dekat jendela, Bu lus melepas kutangnya yang berwarna putih, lalu mengibas-ngibaskannya keatas, sambil teriak “ Sudah sudaaahhh….nyerah deh, nyerah…peace ! Perang selesai. Saya capek ! “
Ibu-ibu yang sedang bertinju itu menoleh sebentar. Wajah mereka juga tampak bengap dan lesu. Maklumlah, perkelahian hari itu sangat seru dan mengerikan sekali.
“ Saya juga capek “ sahut Bu deng yang hidungnya keliatan melengkung, kena jepretan tikus.
“ Gini aja deh, bu…coba kembali duduk…” ajak Bu lus.
“ Mari kita cerita-cerita yang actual aja deh, biar nggak ribut “ lanjutnya.
Mungkin karena sudah pada sakit dan capek, mereka menyambutnya dengan serentak “ Akooorrr…”
Ibu-ibu itu kemudian duduk, dan memperbaiki pakaian yang awut-awutan. Sambil memasang muka semanis mungkin, mereka mulai kusak kusuk lagi.
“ Eh, tau nggak…Pak macan itu pernah selingkuh dengan kucing lho “, terdengar suara dari pojok ruangan.
“ Tadi malam saya pacaran dengan semut “, ada suara lain dari meja sebelah.
“ Eh jangan bilang-bilang yah,…saya sekarang sedang bisnis ganja “, suara lagi dari seorang ibu.
“ Suami saya itu orangnya lemah. Dia langsung pingsan kalo liat saya telanjang “, bisik-bisik dari kursi sebelah depan.
“ Pak presiden itu punya tatto di pusernya “, ada lagi suara.
“ Pak RT sekarang mukanya jelek ya “, lagi-lagi ada suara.
“ Saya pernah mencuri BH “
Blah.. Blah.. Blah…
Demikianlah, kalo lagi kasak kusuk, bisik dan omong-omongan mereka nyasar kemana-mana.
Kemudian Bu lus bicara agak keras dari kursi tengah “ Eh…ibu-ibu tau nggak ? Saya punya berita menarik dan actual ! “ katanya.
“ Apa itu, bu ? “ tanya seorang ibu yang duduk dibawah meja.
“ Pernahkah ibu-ibu memperhatikan perilaku salah satu warga kita. Tampaknya dia banyak perubahan akhir-akhir ini “ kata Bu lus.
“ Siapa itu bu ? “ tanya Bu nglon.
“ Kadal ! “ jawabnya singkat.
“ Ada apa dengan kadal ? “ tanya Bu aya.
“ Perilaku dia sekarang lain deh. Agak nyentrik gitu. Suka dugem, mejeng, jalan-jalan malam, tiap hari sukanya keluyuran, merokok lagi. Padahal dulu kan dia pendiam, rajin bekerja dan nggak macem-macem “ lanjut Bu lus.
“ Iya ya…lusa itu saya liat dia jalan-jalan dengan kambing. Terus kemarin jalan sama sapi. Dan tadi malam saya pergoki dia main kejar-kejaran dengan gorila. Weleh…kayak film India “ kata Bu deng.
“ Hmmm…dandanannya juga aneh. Bajunya dibikin kiwir-kiwir. Celananya dibolongin. Cincinnya gede-gede. Hidung, ekor, kuping, dan mulutnya dipasangi anting-anting. Bicaranyapun pake elu dan gue. Ada apa ya ? “ kata Bu rung.
“ Eh,.. tapi saya ingat, beberapa bulan lalu kan dia pulang dari ibukota. Mungkin dia kena pengaruh budaya sana kali yah “ kata Bu lus.
“ Hmmm…bisa jadi ya. Tapi kok begitu fundamental ya perubahannya. Apakah budaya ibukota itu sangat kuat bisa mempengaruhi jiwa dan perilaku seseorang ya ? “ kata Bu rung seolah bertanya.
“ Bisa jadi iya, bisa juga enggak. Semua kan tergantung jiwa dan pribadi seseorang. Kalo iman seseorang itu kuat, saya yakin dia nggak terpengaruh. Kalo enggak, yah…susah deh “ kata Bu lus.
“ Iya, bisa jadi begitu. Dan akhir-akhir ini, saya juga sering melihat dia sering mengunjungi tempat praktek dokter hewan. Kayaknya…hampir setiap minggu deh. Apa dia sakit ya, gara-gara suka keluyuran gitu “ kata Bu rung.
“ Bisa jadi ia masuk angin. Tapi kalo cuma masuk angin, masak ke dokter tiap minggu sih…kayaknya bukan sekedar masuk angin deh “ kata Bu deng.
“ Ya, mungkin cuman sekedar cek kesehatan aja, biar tetep fit kali. Tapi nggak tau juga sih. Coba deh nanti saya selidiki, ada apa dibalik semuanya ini. Saya kan pengalaman dalam hal investigasi “ kata Bu lus, yang bekerja di badan intelijen PBB ( Perserikatan Bulus Belagu ).
“ Iya deh bu…coba selidiki ya, nanti kita tunggu isu-isu selanjutnya “ kata Bu rung menyetujui.
“ Okeh…tunggu aja nanti “ sambut Bu lus.
Pembicaraan terus berlanjut. Semakin panjang dan tambah melebar. Penulis bingung mengikuti pembicaraan mereka, sebab omongan mereka sepertinya tak berujung. Sampai tangan ini keriting karena menulis, atau mata merah karena mengantuk, mereka terus saja asik ngerumpi. Maklumlah, ibu-ibu.

-----

Sementara itu, dari balik Bongkahan batu, sang kadal keluar pelan-pelan. Lirik kiri - lirik kanan, ia berjalan dengan santai sambil jedal-jedul menghisap rokoknya. Nggak perduli orang lain ngomongin macem-macem, kadal sih enjoy aja.
“ Aah…sungguh indah hidup ini “ gumamnya.

* yah, hidup ini memang indah, dal… *



---To be continued---
 
posted by nasindo at 7:18 AM | Permalink | 3 comments